/dreamstime.com
Cerita ini hanyalah fiktif semata, jika ada kesamaan tokoh atau alur cerita (barangkali) itu kebetulan.
Beginilah nasib memiliki kampung yang luas dan subur. Luas bermakna tidak semua tempat bisa kau jaga dan subur bermakna hewan-hewan akan ikut berpesta dalam kesuburannya. Di kampung ini malah lebih runyam, pagar yang diharapkan untuk menjaga sawah-sawah menguning ternyata justru memakan apa yang harus dijaganya. Akibatnya tanaman menjadi lebih gampang hilang karena ada dua pemangsa. Satunya pagar satunya memang hewan pemangsa.
Tetapi karena ditakdirkan sebagai kampung yang subur, maka kampung ini bisa tetap ada. Tentu saja akhirnya harus dengan mengutang-utang pada kampung tetangga. Kampung tetangga memang masih mau meminjamkan karena tahu bahwa kampung ini kaya dan kalaupun suatu saat kampung ini tidak bisa membayar utang-utangnya tentu ia dengan mudah menyita kekayaannya.
Kampung ini dipimpin oleh gerombolan tikus. Ada tikus curut, tikus got, tikus putih, tikus rawa dan jenis-jenis tikus lainnya. Intinya, kalau kau bisa jadi tikus kau layak memimpin. Ada sih yang bukan tikus, tetapi karena hobinya bergaul dengan tikus, ia pun jadi bau tikus dan disebut tikus. “Dasar tikus, hobinya buang air sembarangan!”
Syahdan, suatu waktu karena persaingan antar tikus semakin ketat, berkatalah sang pemimpin tikus. “Kita harus menjadi seperti tikus. Jangan asal menggigit, kita harus mengendus-endus terlebih dahulu.” Sang pemimpin memang benar, karena saking semangatnya, banyak tikus yang lupa kalau mereka memang tikus. Akibatnya, tikus-tikus itu harus mati.
Ada yang mati dipentung karena menggerogiti beras si miskin. Ia barangkali menyangka si miskin sudah terlelap tidur. Si tikus lupa, kalau jangankan untuk terlelap, untuk membaringkan diri aja si miskin kewalahan. Jadilah ia korban pentung puluhan rakyat miskin yang terus terjaga. Ada yang mati diracun karena saking rakusnya melahap semua makanan yang tersedia. Ia lupa bahwa tidak semua yang tampaknya enak itu makanan. Dilahapnya makanan beracun itu, mulutnya berbusa, tetapi oleh kawannya ia dijadikan pahlawan. Kawan-kawannya berkilah, “ia meninggal sebagai pahlawan, tentu diracun oleh lawan politiknya karena ia getol bersuara.” Suara cericit tentunya. Brisik tapi tidak bermakna bagi rakyat kecil.
Walaupun tikus-tikus itu bangga menyebut diri mereka tikus kepada sesama mereka. Tetapi jangan coba-coba memanggil mereka tikus. Mereka tersinggung jika itu diucapkan oleh bukan tikus. Aneh memang, tetapi begitulah kehidupan para tikus. Penuh keanehan dan tipu muslihat.
Kemana perginya kucing-kucing, sehingga tikus bisa merajalela? Kucing-kucingnya masih tetap ada, lebih tambun malah, tetapi ia sudah tak punya nyali. atau barangkali ia sudah tak bisa bergerak lincah karena badannya yang tambun. Tetapi jawabannya barangkali ada jawaban yang lebih baik, tikus dan kucing sudah membentuk koloni bersama. Mereka bersatu padu menggerogoti isi kampung. Makanya jangan heran, karena kelamaan bergaul dengan tikus, tak sedikit dari kucing-kucing itu sudah berbau seperti layaknya tikus.
Begitu kuatnya koloni tikus dan kucing sehingga jika ada kucing yang coba mengeong (bukan menerkam), si kucing langsung dicap sebagai penghianat. Jadi kalaupun dikampung ini kita mendengar kucing mengeong, suara meongnya hanya terdengar lirih. Saya sendiri bahwa menyangka bahwa kucing bukan satu keluarga dengan singa, tetapi ia barangkali turunan dari tikus itu sendiri. Dan jika saya perhatikan kepala kucing itu secara saksama, memang tak jauh beda dengan kepala tikus.
Lalu, bagaimana menghadapi tikus-tikus yang semakin hari semakin kesetanan? Kita cuma bisa merevisinya 5 tahun sekali. Kita ikut pemilihan pemimpin kampung, lalu berharap dari yang kita pilih itu tak seekorpun yang tikus. Kalau akhirnya ternyata kita tertipu lagi dengan topeng tebal si tikus, yah kita revisi lagi 5 tahun lagi. Begitu seterusnya, sampai kampung ini habis oleh tikus-tikus. atau jika sudah bosan dengan itu semua.. jadilah tikus! tapi bersiaplah kena pentung kalau tak pandai mengendus.