
/pertamina.com
Pemerintah selalu punya jawaban untuk menjawab kerisauan masyarakat dengan kata-kata, bukan dengan perbuatan yang justru lebih dibutuhkan masyarakat. Ketika masyarakat mempertanyakan tentang gas 3 kg yang mendapat julukan sebagai “bom yang dikirim ke rumah”, dengan arogannya pertamina justru menyalahkan asesoris sebagai kambing hitam dari permasalahan masyarakat.
Faktanya, saya sendiri sering mengalami bagaimana parahnya tabung gas 3 kg tersebut. Pernah saya membeli tabung gas, tetapi begitu segel dibuka, serta merta gas bocor. Apa yang harus saya lakukan. Yah! membawa ke tempat yang memiliki udara terbuka. Untunglah saya memiliki tempat udara terbuka yang cukup aman buat melepaskan gas si “melon” itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang harus tinggal di gang-gang sempit? yang Faktanya mereka juga diwajibkan untuk menggunakan gas? Saat mereka membawa keluar, bisa jadi gas-gas itu akan menghadapi kompor tetangga yang sedang menyala.
Kembali ke gas bocor itu, mau tidak mau saya harus membawa gas bocor saya itu ke penjual gas untuk ditukar, seperti apa yang disarankan pertamina. Tetapi saya berfikir, kalo saya bawa gas itu ke warung, yang kadang kala disamping jual gas, juga menjual rokok. Apa kira-kira yang terjadi tiba-tiba gas itu meledak. Akhirnya saya bawa, gas tersebut ke SPBU yang juga menjual gas, dan tentu saja saya jelaskan bahwa tabung gas yang saya bawa itu masih mengeluarkan gas. Saya bawa kesana karena menganggap bahwa disana lebih steril dari hal-hal yang berbahaya. Akhirnya saya harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli gas yang baru.
Kejadian mendapatkan tabung gas yang bocor bukanlah kali pertama, tetapi beberapa kali, walaupun yang lain justru bocornya setelah dimasuki regulator. Bukan karena regulatornya yang jelek, melainkan justru karena memang karet gasnya yang jelek. Buktinya, setelah gas ditukar, barulah ia berfungsi sebagaimana mestinya.
Apa yang harus dilakukan pertamina? Seharusnya pertamina jangan melulu menyalahkan konsumen dengan alasan konsumen belum paham menggunakan gas. Seharusnya kalau pertamina sadar bahwa banyak konsumen yang belum tahu menggunakan gas, lalu kenapa semua masyarakat “dipaksa” untuk menggunakan gas. Kenapa bukan edukasinya dulu, bukan menunggu korban yang banyak lalu melakukan edukasi.
Alasan pertamina lainnya, bahwa konversi minyak ke gas telah menghemat subsidi Rp 17 triliun. Ini hanyalah angka-angka yang dilihat dari satu sudut. Lalu maukah pertamina menghitung berapa kerugian akibat kebijakan konversi gas yang dipaksakan ini? Belum lagi ditambah dengan kerugian sosial yang jumlahnya tentu tidak bisa digantikan dengan uang.
Melihat acara-acara debat di televisi, rasanya sangatlah muak. Bagi saya pertamina tak usah menjawab pertanyaan-pertanyaan. Cukup akui.. yah, gas kami memang jelek. Lalu lakukanlah perbaikan. Bukan dengan memberi jawaban-jawaban yang justru tidak masuk akal. Masyarakat sudah bosan dengan jawaban apologis. Toh, kalau hanya mau menjawab seperti itu, buat apa Pertamina memiliki gaji yang sangat tinggi. Mereka di gaji pada dasarnya untuk bekerja bukan untuk berkilah.