Wajah pendidikan kita adalah hapalan. Selama ini kita jika diminta untuk mendefinisikan sebuah istilah, maka dengan lancar kita akan segera malafalkan apa yang ada dibuku. Termasuk dengan definisi demokrasi yang diusung oleh Indonesia yang sering kita terjemahkan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tetapi apakah demokrasi dengan terjemahan seperti itu benar-benar terejawantah? Jawaban dan diskusinya mungkin akan sangat panjang.
Tetapi tidak bagi Adhyatmika (21), seorang film maker muda Indonesia yang berhasil memenangkan kompetisi video “Democracy Video Challenge” yang diselenggarakan oleh Deplu Amerika dan melibatkan lebih 700 video dari 89 negara. Lewat filmnya yang diberi judul “Democracy is Yet to Learn (Masih Belajar)”, Adhyatmika sukses memberi kita cermin, wajah demokrasi yang sering tampil dimasyarakat, tidak dengan cara yan njelimet, tetapi melalui film pendek berdurasi kurang dari 3 menit.
Film ini sendiri menampilkan setting disebuah ruang kelas yang diisi oleh beragam profesi. Ruang kelas itu seperti wajah Indonesia. Ada aktivis, pengusaha, politisi, petani, polisi, selebriti, media, juga seorang anak SD. Menjawab pertanyaan gurunya apa itu demokrasi tak banyak yang bisa menjawabnya. Politisi yang mencoba menjawab dengan panjang lebar, langsung terdiam setelah mulutnya disempal uang 100rb oleh pengusaha yang kebetulan duduk tak jauh darinya. Petani yang baca koran, ingin menjawab serta merta dibekap oleh polisi.
Wajah satir demokrasi dalam film ini tidak berhenti sampai situ, tepat di depan kejadian polisi membekap petani, duduklah seorang artis yang bersolek yang mendapat sorotan media. Tetapi media sendiri justru melupakan kejadian yang ada dibelakangnya dan lebih asyik dengan liputannya bersama sang artis. Hingga kemudian majulah sang anak SD ke depan untuk menjawab pertanyaan sang guru. Tetapi lagi-lagi sampai bel berbunyi, ia hanya berdiri di depan kelas dan tak menulis satu huruf pun.
Film ini, walau sebuah film pendek, tetapi ia sukses bercerita panjang lebar tentang demokrasi yang ternyata belum bisa kita terjemahkan dalam praktek kehidupan kita. Kita memang masih belajar