Sebuah film pendek, walau harus pendek bukan berarti ia harus memiliki kedangkalan makna. Sama dengan film pada umumnya, ia juga berisi pesan yang tersampaikan lewat simbol-simbol gambar. Saya tertarik mengulas sebuah film pendek yang menceritakan tentang “tokoh fiktif” yang kerap hadir dalam dongeng-dongeng bugis-makassar yang disebut Nenek Pakande.
Film yang digarap oleh Empat-7 Production ini menggunakan dialeg Makassar dalam percakapannya. Walau tema sentralnya tentang “Nenek Pakande” tetapi film ini sendiri menurut saya lebih banyak bercerita tentang “budaya pop” yang menjangkiti generasi mudah. Misalnya dalam dialog, “jika dulu, kita main masak-masak pake tanah liat, sekarang anak-anak main masak-masak di facebook”. Tentu ini mengacu pada berbagai game-game “masak-memasak” yang ada di jejaring sosial tersebut.
Kritik tidak hanya disampaikan lewat kalimat, tetapi juga melalui adegan sederhana seperti sebuah adegan yang memperlihatkan si aktris menggunakan blackberrynya untuk SMS tetapi urung dilakukan karena pulsanya habis. Akhirnya cara lawas pun kembali digunakan, yaitu dengan teriak.
Lelucon lain juga ditampilkan yaitu kisah mengenai hantu yang dikabarkan karena meninggal di pohon pisang, tetapi hantunya gentanyan di pohon beringin. Ini seperti menertawakan logika kita yang justru seringkali mengabaikan akal sehat, jika berbicara mengenai mitos.
Juga lelucon mengenai kabar adanya hantu kakek-kakek yang menggunakan sorban dan gentayangan di tiang bendera sekolah mereka. Lalu ditimpali dengan kalimat, “mana ada kakek-kakek di tiang bendera, biasanya kakek-kakek itu adanya di masjid.” Sebuah lelucon yang jika kita mau merenungkannya seperti menertawakan cara kita beragama yang hanya menganggap bahwa tobat dapat dilakukan pada waktu tua. Sehingga masjid hanya berisi orang-orang yang sudah tua secara usia. Adapun kaum mudanya entah ada dimana.
Hal, menarik lainnya yang disampaikan dalam film ini, ketika pemerannya menyebutkan hantu-hantu yang mereka kenal waktu SD seperti setan sumiati, nenek pakande, dan Suzanna. Tampaknya film ini, sengaja memasukkan nama artis yang kerap membintangi film mistis ini ke dalam hantu. Menurut saya, ini merupakan sebuah kesengajaan dari penulis naskah karena memang hingga saat inipun, garis pemisah antara karakter Suzanna dalam film hampir tidak ada dengan karakter aslinya dia. Orang masih sering menyamakan Suzanna dalam film dan Suzanna dalam kesehariannya–bahkan hingga meninggalnyapun selalu dibumbuhi dengan cerita-cerita yang mencampurkan antara film dan kenyataan.
Terlepas dari hal-hal teknis, film yang dibuat oleh anak-anak muda Makassar ini, layak untuk diapresiasi. Paling tidak ini membuka ruang dialog kita untuk terus membincangkan Nenek Pakande dengan cara yang selalu–penuh humor tetapi juga penuh kritikan.