Setiap kali menjelang idul fitri, lupaan kegembiraan dengan saling memafkan, saling mendoakan, dan juga saling bersilaturahmi selalu dilakukan oleh hampir setiap muslim di negara kita. Terngiang saya dengan beberapa tahun silam, saat menjelang lebaran, berusaha mendapatkan sejumlah dana untuk membeli kartu lebaran, juga prangko untuk dikirimkan kepada kawan-kerabat. Ada kebanggaan dalam dada, jika berhasil mengirimkan kartu lebaran.
Kartu Lebaran
Esensinya di dalam kartu lebaran itu ada “kerjakeras” untuk meminta maaf. Kerja keras disini, maksud saya kerja keras mengumpulkan dana untuk membeli kartu lebaran dan perangko, termasuk juga “kerja” untuk mengeposkannya. Tidak hanya disitu, kerja keras juga ditambah dengan memberi sentuhan pribadi, berupa kalimat yang ditulis secara personal. Tidak ada template, karena itu kartu lebaran, benar-benar memiliki sentuhan silaturahmi secara personal. Kerja keras itu terkadang juga bertambah dengan membuat kartu lebaran sendiri. Ada kerjakeras, ada kreatifitas.
Paling tidak kartu lebaran mengajarkan.. “perlu kerja keras untuk meminta maaf”.
SMS
Saat penggunaan seluler semakin marak, ucapan idul fitri pun mulai bergeser. Tiba-tiba semua menjadi pujangga dengan membuat kalimat-kalimat puitis berpanjang-panjang–utamanya setelah seluler dengan karakter sms berlembar-lembar mulai marak. Pada masa awal, gambar-gambar sederhana yang terbuat dari teks-teks juga banyak digunakan. Awalnya memang menarik, tetapi lama-lama mulai kehilangan sentuhan personalnya, karena banyak sms yang hanya memforward sms yang ada.
Pernah dalam sekali waktu, saya mendapat sms yang nama pengirim pertamanya tidak diedit sebelum diforward. Pernah pula dikesempatan yang lain, saya mendapatkan ucapan yang sama dengan yang saya kirimkan. Dan saya tahu persis bahwa itu adalah kalimat yang saya buat.
Greget sms juga semakin hilang dengan ulah beberapa orang yang sok simpel, yaitu dengan hanya membalas ucapan idul fitri dengan kalimat simpel. “Sama-sama yah.” Terkesan lebih tidak menghargai upaya permintaan maaf seseorang. Seakan-akan, meminta maaf lewat sms tersebut hanyalah basa-basi sekedarnya untuk merayakan idul fitri.
Di era awal-awal facebook, ucapan idul fitri dibuat dengan menuliskan pada status atau mengirimkan pesan massal. Tentu saja ucapan ini tidak semua membacanya. Lalu saat ini, mulai marak orang mentag e-card pada temannya sebagai ganti kartu lebaran. Beberapa membuatnya dengan serius menggunakan fotonya, walau dengan kemampuan desain yang ala kadarnya. Tetapi paling tidak sudah ada kerja keras. Tetapi kok, yang saya tangkap bukan kerja keras, tetapi tak jarang justru yang dikomentari bukanlah ucapan maaf lahir batinnya tetapi justru, desain dari kartu tersebut.
Tetapi tak jarang ada pula yang hanya sekedar mencari e-card yang sudah ada lalu mempostingnya di wall mereka. Barangkali, inilah evolusi cara berkomunikasi kita, yang kini lebih justru kerap melupakan substansi dari apa yang kita komunikasikan.
Ketika menyaksikan dialog di Jak TV dengan narasumber ketua perhimpunan pengusaha parkir Jakarta, sang narasumber mengomentari pertanyaan penelpon yang mempertanyakan buruknya pelayanan parkir yang tidak pernah diperbaiki oleh pengusaha perparkiran. Saya sudah lupa nama narasumber. Sang narasumber dengan “keangkuhan” seorang pengusaha dan pemilik otoritas penuh terhadap parkir mengungkapkan bahwa selama ini pengusaha parkir memang hanya menyediakan TEMPAT dan bukan pelayanan. Jika kemudian kita mendapatkan pelayanan parkir, anggap saja itu bonus dan berarti itu bonus. (bahasanya tidak seperti itu tetapi substansinya seperti yang saya tulis di atas).


Selama ini, minat membaca masyarakat Indonesia dianggap cukup rendah. Indikator yang sering digunakan antara lain rasio perbandingan antara jumlah penduduk dan oplah surat kabar yang berbanding 1:43 pada tahun 1999. Jumlah ini jauh tertinggal dengan Malaysia yang berbanding 1: 8,1 atau Jepang yang justru sangat fantastis yaitu 1:1,7. (


