Setiap kali menjelang idul fitri, lupaan kegembiraan dengan saling memafkan, saling mendoakan, dan juga saling bersilaturahmi selalu dilakukan oleh hampir setiap muslim di negara kita. Terngiang saya dengan beberapa tahun silam, saat menjelang lebaran, berusaha mendapatkan sejumlah dana untuk membeli kartu lebaran, juga prangko untuk dikirimkan kepada kawan-kerabat. Ada kebanggaan dalam dada, jika berhasil mengirimkan kartu lebaran.

Kartu Lebaran

Esensinya di dalam kartu lebaran itu ada “kerjakeras” untuk meminta maaf. Kerja keras disini, maksud saya kerja keras mengumpulkan dana untuk membeli kartu lebaran dan perangko, termasuk juga “kerja” untuk mengeposkannya. Tidak hanya disitu, kerja keras juga ditambah dengan memberi sentuhan pribadi, berupa kalimat yang ditulis secara personal. Tidak ada template, karena itu kartu lebaran, benar-benar memiliki sentuhan silaturahmi secara personal. Kerja keras itu terkadang juga bertambah dengan membuat kartu lebaran sendiri. Ada kerjakeras, ada kreatifitas.

Paling tidak kartu lebaran mengajarkan.. “perlu kerja keras untuk meminta maaf”.

SMS

Saat penggunaan seluler semakin marak, ucapan idul fitri pun mulai bergeser. Tiba-tiba semua menjadi pujangga dengan membuat kalimat-kalimat puitis berpanjang-panjang–utamanya setelah seluler dengan karakter sms berlembar-lembar mulai marak. Pada masa awal, gambar-gambar sederhana yang terbuat dari teks-teks juga banyak digunakan. Awalnya memang menarik, tetapi lama-lama mulai kehilangan sentuhan personalnya, karena banyak sms yang hanya memforward sms yang ada.

Pernah dalam sekali waktu, saya mendapat sms yang nama pengirim pertamanya tidak diedit sebelum diforward. Pernah pula dikesempatan yang lain, saya mendapatkan ucapan yang sama dengan yang saya kirimkan. Dan saya tahu persis bahwa itu adalah kalimat yang saya buat.

Greget sms juga semakin hilang dengan ulah beberapa orang yang sok simpel, yaitu dengan hanya membalas ucapan idul fitri dengan kalimat simpel. “Sama-sama yah.” Terkesan lebih tidak menghargai upaya permintaan maaf seseorang. Seakan-akan, meminta maaf lewat sms tersebut hanyalah basa-basi sekedarnya untuk merayakan idul fitri.

Facebook

Di era awal-awal facebook, ucapan idul fitri dibuat dengan menuliskan pada status atau mengirimkan pesan massal. Tentu saja ucapan ini tidak semua membacanya. Lalu saat ini, mulai marak orang mentag e-card pada temannya sebagai ganti kartu lebaran. Beberapa membuatnya dengan serius menggunakan fotonya, walau dengan kemampuan desain yang ala kadarnya. Tetapi paling tidak sudah ada kerja keras. Tetapi kok, yang saya tangkap bukan kerja keras, tetapi tak jarang justru yang dikomentari bukanlah ucapan maaf lahir batinnya tetapi justru, desain dari kartu tersebut.

Tetapi tak jarang ada pula yang hanya sekedar mencari e-card yang sudah ada lalu mempostingnya di wall mereka. Barangkali, inilah evolusi cara berkomunikasi kita, yang kini lebih justru kerap melupakan substansi dari apa yang kita komunikasikan.

Nak! menangislah yang kuat. Itu tentu lebih baik bagimu daripada kau diam.

Nak! kita sama belajar. Kau belajar mengenal dunia. Ayah dan Ibumu belajar memahami bahasamu.

Nak! Tak penting berapa banyak harta kita. Asalkan kita punya keluarga yang dipenuhi cinta, itu sudah cukup untuk membesarkanmu.

Nak! Tak perlu bertanya apa arti nama yang ayah berikan kepadamu. Itu semua tak penting. Kau temukanlah sendiri arti namamu berdasarkan tafsirmu atas hidupmu. Jika ada yang berkata bahwa, “dalam sebuah nama ada doa”, ketahuilah doa Ayah dan Ibumu mengalir senantiasa dalam setiap helaan nafas.

Ketika menyaksikan dialog di Jak TV dengan narasumber ketua perhimpunan pengusaha parkir Jakarta, sang narasumber mengomentari pertanyaan penelpon yang mempertanyakan buruknya pelayanan parkir yang tidak pernah diperbaiki oleh pengusaha perparkiran. Saya sudah lupa nama narasumber. Sang narasumber dengan “keangkuhan” seorang pengusaha dan pemilik otoritas penuh terhadap parkir mengungkapkan bahwa selama ini pengusaha parkir memang hanya menyediakan TEMPAT dan bukan pelayanan. Jika kemudian kita mendapatkan pelayanan parkir, anggap saja itu bonus dan berarti itu bonus. (bahasanya tidak seperti itu tetapi substansinya seperti yang saya tulis di atas).

Dari penjelasannya tersebut, barulah saya mengerti, mengapa setiap kali saya menggunakan parkir di Jakarta saya tidak bisa mendapatkan pelayanan parkir. Saya hanya dapat TEMPAT parkirnya. Dan saya harus mengatur dan memindahkan kendaraan yang menghalangi tersebut. Menurut saya, dari penjelasan tersebut, terlihat sekali bahwa pengusaha parkir di Jakarta hanya memikirkan tentang uang. Sehingga benar apa yang menjadi dugaan saya di tulisan terdahulu, bahwa di jakarta tidak ada TUKANG PARKIR yang ada hanya TUKANG NARIK BIAYA PARKIR.

Tak usah bicara bahwa, Anda akan mendapatkan ganti rugi dari kehilangan kendaraan Anda, bicara pelayanan kecil aja tidak mungkin kita dapatkan.Dialog tersebut membuat saya mengerti, mengapa setiap tahun konsumen parkir di Jakarta hanya disuguhi wacana soal kenaikan tarif parkir, dan sama sekali tidak ada wacana perbaikan mutu layanan parkir.

/dreamstime.com

Cerita ini hanyalah fiktif semata, jika ada kesamaan tokoh atau alur cerita (barangkali) itu kebetulan.

Beginilah nasib memiliki kampung yang luas dan subur. Luas bermakna tidak semua tempat bisa kau jaga dan subur bermakna hewan-hewan akan ikut berpesta dalam kesuburannya. Di kampung ini malah lebih runyam, pagar yang diharapkan untuk menjaga sawah-sawah menguning ternyata justru memakan apa yang harus dijaganya. Akibatnya tanaman menjadi lebih gampang hilang karena ada dua pemangsa. Satunya pagar satunya memang hewan pemangsa.

Tetapi karena ditakdirkan sebagai kampung yang subur, maka kampung ini bisa tetap ada. Tentu saja akhirnya harus dengan mengutang-utang pada kampung tetangga. Kampung tetangga memang masih mau meminjamkan karena tahu bahwa kampung ini kaya dan kalaupun suatu saat kampung ini tidak bisa membayar utang-utangnya tentu ia dengan mudah menyita kekayaannya.

Kampung ini dipimpin oleh gerombolan tikus. Ada tikus curut, tikus got, tikus putih, tikus rawa dan jenis-jenis tikus lainnya. Intinya, kalau kau bisa jadi tikus kau layak memimpin. Ada sih yang bukan tikus, tetapi karena hobinya bergaul dengan tikus, ia pun jadi bau tikus dan disebut tikus. “Dasar tikus, hobinya buang air sembarangan!”

Syahdan, suatu waktu karena persaingan antar tikus semakin ketat, berkatalah sang pemimpin tikus. “Kita harus menjadi seperti tikus. Jangan asal menggigit, kita harus mengendus-endus terlebih dahulu.” Sang pemimpin memang benar, karena saking semangatnya, banyak tikus yang lupa kalau mereka memang tikus. Akibatnya, tikus-tikus itu harus mati.

Ada yang mati dipentung karena menggerogiti beras si miskin. Ia barangkali menyangka si miskin sudah terlelap tidur. Si tikus lupa, kalau jangankan untuk terlelap, untuk membaringkan diri aja si miskin kewalahan. Jadilah ia korban pentung puluhan rakyat miskin yang terus terjaga. Ada yang mati diracun karena saking rakusnya melahap semua makanan yang tersedia. Ia lupa bahwa tidak semua yang tampaknya enak itu makanan. Dilahapnya makanan beracun itu, mulutnya berbusa, tetapi oleh kawannya ia dijadikan pahlawan. Kawan-kawannya berkilah, “ia meninggal sebagai pahlawan, tentu diracun oleh lawan politiknya karena ia getol bersuara.” Suara cericit tentunya. Brisik tapi tidak bermakna bagi rakyat kecil.

Walaupun tikus-tikus itu bangga menyebut diri mereka tikus kepada sesama mereka. Tetapi jangan coba-coba memanggil mereka tikus. Mereka tersinggung jika itu diucapkan oleh bukan tikus. Aneh memang, tetapi begitulah kehidupan para tikus. Penuh keanehan dan tipu muslihat.

Kemana perginya kucing-kucing, sehingga tikus bisa merajalela? Kucing-kucingnya masih tetap ada, lebih tambun malah, tetapi ia sudah tak punya nyali. atau barangkali ia sudah tak bisa bergerak lincah karena badannya yang tambun. Tetapi jawabannya barangkali ada jawaban yang lebih baik, tikus dan kucing sudah membentuk koloni bersama. Mereka bersatu padu menggerogoti isi kampung. Makanya jangan heran, karena kelamaan bergaul dengan tikus, tak sedikit dari kucing-kucing itu sudah berbau seperti layaknya tikus.

Begitu kuatnya koloni tikus dan kucing sehingga jika ada kucing yang coba mengeong (bukan menerkam), si kucing langsung dicap sebagai penghianat. Jadi kalaupun dikampung ini kita mendengar kucing mengeong, suara meongnya hanya terdengar lirih. Saya sendiri bahwa menyangka bahwa kucing bukan satu keluarga dengan singa, tetapi ia barangkali turunan dari tikus itu sendiri. Dan jika saya perhatikan kepala kucing itu secara saksama, memang tak jauh beda dengan kepala tikus.

Lalu, bagaimana menghadapi tikus-tikus yang semakin hari semakin kesetanan? Kita cuma bisa merevisinya 5 tahun sekali. Kita ikut pemilihan pemimpin kampung, lalu berharap dari yang kita pilih itu tak seekorpun yang tikus. Kalau akhirnya ternyata kita tertipu lagi dengan topeng tebal si tikus, yah kita revisi lagi 5 tahun lagi. Begitu seterusnya, sampai kampung ini habis oleh tikus-tikus. atau jika sudah bosan dengan itu semua.. jadilah tikus! tapi bersiaplah kena pentung kalau tak pandai mengendus.

/pertamina.com

Pemerintah selalu punya jawaban untuk menjawab kerisauan masyarakat dengan kata-kata, bukan dengan perbuatan yang justru lebih dibutuhkan masyarakat. Ketika masyarakat mempertanyakan tentang gas 3 kg yang mendapat julukan sebagai “bom yang dikirim ke rumah”, dengan arogannya pertamina justru menyalahkan asesoris sebagai kambing hitam dari permasalahan masyarakat.

Faktanya, saya sendiri sering mengalami bagaimana parahnya tabung gas 3 kg tersebut. Pernah saya membeli tabung gas, tetapi begitu segel dibuka, serta merta gas bocor. Apa yang harus saya lakukan. Yah! membawa ke tempat yang memiliki udara terbuka. Untunglah saya memiliki tempat udara terbuka yang cukup aman buat melepaskan gas si “melon” itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang harus tinggal di gang-gang sempit? yang Faktanya mereka juga diwajibkan untuk menggunakan gas? Saat mereka membawa keluar, bisa jadi gas-gas itu akan menghadapi kompor tetangga yang sedang menyala.

Kembali ke gas bocor itu, mau tidak mau saya harus membawa gas bocor saya itu ke penjual gas untuk ditukar, seperti apa yang disarankan pertamina.  Tetapi saya berfikir, kalo saya bawa gas itu ke warung, yang kadang kala disamping jual gas, juga menjual rokok. Apa kira-kira yang terjadi tiba-tiba gas itu meledak. Akhirnya saya bawa, gas tersebut ke SPBU yang juga menjual gas, dan tentu saja saya jelaskan bahwa tabung gas yang saya bawa itu masih mengeluarkan gas. Saya bawa kesana karena menganggap bahwa disana lebih steril dari hal-hal yang berbahaya. Akhirnya saya harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli gas yang baru.

Kejadian mendapatkan tabung gas yang bocor bukanlah kali pertama, tetapi beberapa kali, walaupun yang lain justru bocornya setelah dimasuki regulator. Bukan karena regulatornya yang jelek, melainkan justru karena memang karet gasnya yang jelek. Buktinya, setelah gas ditukar, barulah ia berfungsi sebagaimana mestinya.

Apa yang harus dilakukan pertamina? Seharusnya pertamina jangan melulu menyalahkan konsumen dengan alasan konsumen belum paham menggunakan gas. Seharusnya kalau pertamina sadar bahwa banyak konsumen yang belum tahu menggunakan gas, lalu kenapa semua masyarakat “dipaksa” untuk menggunakan gas. Kenapa bukan edukasinya dulu, bukan menunggu korban yang banyak lalu melakukan edukasi.

Alasan pertamina lainnya, bahwa konversi minyak ke gas telah menghemat subsidi Rp 17 triliun. Ini hanyalah angka-angka yang dilihat dari satu sudut. Lalu maukah pertamina menghitung berapa kerugian akibat kebijakan konversi gas yang dipaksakan ini? Belum lagi ditambah dengan kerugian sosial yang jumlahnya tentu tidak bisa digantikan dengan uang.

Melihat acara-acara debat di televisi, rasanya sangatlah muak. Bagi saya pertamina tak usah menjawab pertanyaan-pertanyaan. Cukup akui.. yah, gas kami memang jelek. Lalu lakukanlah perbaikan. Bukan dengan memberi jawaban-jawaban yang justru tidak masuk akal. Masyarakat sudah bosan dengan jawaban apologis. Toh, kalau hanya mau menjawab seperti itu, buat apa Pertamina memiliki gaji yang sangat tinggi. Mereka di gaji pada dasarnya untuk bekerja bukan untuk berkilah.

Wajah pendidikan kita adalah hapalan. Selama ini kita jika diminta untuk mendefinisikan sebuah istilah, maka dengan lancar kita akan segera malafalkan apa yang ada dibuku. Termasuk dengan definisi demokrasi yang diusung oleh Indonesia yang sering kita terjemahkan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tetapi apakah demokrasi dengan terjemahan seperti itu benar-benar terejawantah? Jawaban dan diskusinya mungkin akan sangat panjang.

Tetapi tidak bagi Adhyatmika (21), seorang film maker muda Indonesia yang berhasil memenangkan kompetisi video “Democracy Video Challenge” yang diselenggarakan oleh Deplu Amerika dan melibatkan lebih 700 video dari 89 negara. Lewat filmnya yang diberi judul “Democracy is Yet to Learn (Masih Belajar)”, Adhyatmika sukses memberi kita cermin, wajah demokrasi yang sering tampil dimasyarakat, tidak dengan cara yan njelimet,  tetapi melalui film pendek berdurasi kurang dari 3 menit.

Film ini sendiri menampilkan setting disebuah ruang kelas yang diisi oleh beragam profesi. Ruang kelas itu seperti wajah Indonesia. Ada aktivis, pengusaha, politisi, petani, polisi, selebriti, media, juga seorang anak SD. Menjawab pertanyaan gurunya apa itu demokrasi tak banyak yang bisa menjawabnya. Politisi yang mencoba menjawab dengan panjang lebar, langsung terdiam setelah mulutnya disempal uang 100rb oleh pengusaha yang kebetulan duduk tak jauh darinya. Petani yang baca koran, ingin menjawab serta merta dibekap oleh polisi.

Wajah satir demokrasi dalam film ini tidak berhenti sampai situ, tepat di depan kejadian polisi membekap petani, duduklah seorang artis yang bersolek yang mendapat sorotan media. Tetapi media sendiri justru melupakan kejadian yang ada dibelakangnya dan lebih asyik dengan liputannya bersama sang artis. Hingga kemudian majulah sang anak SD ke depan untuk menjawab pertanyaan sang guru. Tetapi lagi-lagi sampai bel berbunyi, ia hanya berdiri di depan kelas dan tak menulis satu huruf pun.

Film ini, walau sebuah film pendek, tetapi ia sukses bercerita panjang lebar tentang demokrasi yang ternyata belum bisa kita terjemahkan dalam praktek kehidupan kita. Kita memang masih belajar

Sebuah film pendek, walau harus pendek bukan berarti ia harus memiliki kedangkalan makna. Sama dengan film pada umumnya, ia juga berisi pesan yang tersampaikan lewat simbol-simbol gambar. Saya tertarik mengulas sebuah film pendek yang menceritakan tentang “tokoh fiktif” yang kerap hadir dalam dongeng-dongeng bugis-makassar yang disebut Nenek Pakande.

Film yang digarap oleh Empat-7 Production ini menggunakan dialeg Makassar dalam percakapannya. Walau tema sentralnya tentang “Nenek Pakande” tetapi film ini sendiri menurut saya lebih banyak bercerita tentang “budaya pop” yang menjangkiti generasi mudah. Misalnya dalam dialog, “jika dulu, kita main masak-masak pake tanah liat, sekarang anak-anak main masak-masak di facebook”. Tentu ini mengacu pada berbagai game-game “masak-memasak” yang ada di jejaring sosial tersebut.

Kritik tidak hanya disampaikan lewat kalimat, tetapi juga melalui adegan sederhana seperti sebuah adegan yang memperlihatkan si aktris menggunakan blackberrynya untuk SMS tetapi urung dilakukan karena pulsanya habis. Akhirnya cara lawas pun kembali digunakan, yaitu dengan teriak.

Lelucon lain juga ditampilkan yaitu kisah mengenai hantu yang dikabarkan karena meninggal di pohon pisang, tetapi hantunya gentanyan di pohon beringin. Ini seperti menertawakan logika kita yang justru seringkali mengabaikan akal sehat, jika berbicara mengenai mitos.

Juga lelucon mengenai kabar adanya hantu kakek-kakek yang menggunakan sorban dan gentayangan di tiang bendera sekolah mereka. Lalu ditimpali dengan kalimat, “mana ada kakek-kakek di tiang bendera, biasanya kakek-kakek itu adanya di masjid.” Sebuah lelucon yang jika kita mau merenungkannya seperti menertawakan cara kita beragama yang hanya menganggap bahwa tobat dapat dilakukan pada waktu tua. Sehingga masjid hanya berisi orang-orang yang sudah tua secara usia. Adapun kaum mudanya entah ada dimana.

Hal, menarik lainnya yang disampaikan dalam film ini, ketika pemerannya menyebutkan hantu-hantu yang mereka kenal waktu SD seperti setan sumiati, nenek pakande, dan Suzanna. Tampaknya film ini, sengaja memasukkan nama artis yang kerap membintangi film mistis ini ke dalam hantu. Menurut saya, ini merupakan sebuah kesengajaan dari penulis naskah karena memang hingga saat inipun, garis pemisah antara karakter Suzanna dalam film hampir tidak ada dengan karakter aslinya dia. Orang masih sering menyamakan Suzanna dalam film dan Suzanna dalam kesehariannya–bahkan hingga meninggalnyapun selalu dibumbuhi dengan cerita-cerita yang mencampurkan antara film dan kenyataan.

Terlepas dari hal-hal teknis, film yang dibuat oleh anak-anak muda Makassar ini, layak untuk diapresiasi. Paling tidak ini membuka ruang dialog kita untuk terus membincangkan Nenek Pakande dengan cara yang selalu–penuh humor tetapi juga penuh kritikan.

/jawapost.co.id

Tulisan ini berawal dari curhat seorang ibu yang sering membantu dirumah. Ia mengeluhkan mahalnya biaya sekolah bagi kedua anaknya. Akibat tidak bisa mendapatkan sekolah negeri, akhirnya ia pun memaksakan diri mendaftarkan anaknya ke sebuah SMK swasta. Tetapi biaya pendidikan yang diperolehnya dengan hasil pinjaman itu rupanya bukanlah satu-satunya biaya yang harus dikeluarkannya.

MOS atau masa orientasi siswa juga mengharuskannya mengeluarkan uang untuk beragam biaya yang sebenarnya hanya sekali pakai itu. Beberapa perlengkapan MOS yang harus disediakannya antara lain, karung gandum, caping, kaos kaki bola, sepatu yang mengharuskannya membeli sepatu lagi, foto bersama ondel-ondel, dan perlengkapan lain yang bagi orang mampu mungkin gampang diperoleh tetapi tidak baginya.

Ia harus mencari uang lagi untuk berbelanja keputuhan MOS yang tidak berhubungan langsung dengan proses belajar mengajar itu. Dari ceritanya barulah saya menyadari bahwa, baik MOS atau Ospek atau apapun namanya tidak lebih dari sebuah “pesta” yang harus ditunjau ulang. Selama ini jika kita mengamati MOS atau Ospek barulah sampai pada titik perpeloncoan–kesulitan anak–tetapi tidak menyentuh pada persoalan “kesulitan orangtua”.

Lihatlah misalnya barang-barang yang harus dibawa itu. Kaos kaki bola misalnya. Jika tugas ini hanya dibebankan kepada anak laki-laki, barangkali saya masih sepakat karena setelah MOS atau Ospek, kaos kaki itu masih dapat digunakannya. Tetapi jika tugas itu juga dibebankan kepada siswi, lantas setelah MOS, kaos kaki bola itu untuk apa?

Demikian pula dengan tas yang dibuat dari karung terigu? Setelah acara MOS dan Ospek berdasarkan pengalaman saya, nasibnya tidak jauh dari tong sampah setelah disimpan beberapa saat disimpan dengan alasan untuk kenangan. Kenapa misalnya tidak meminta siswa/maba untuk menggunakan kantong plastik yang jauh lebih mudah didapatkan dan setelahnya masih dapat digunakan.

Atau misalnya sepatu khusus yang nantinya berbeda dengan sepatu yang digunakan untuk kuliah atau belajar. Saya jadi ingat bagaimana berapi-apinya panitia ospek menginginkan penyeragaman, tetapi mereka sendiri justru mengecam hal tersebut. Bukankah ini adalah sebuah hal yang kontraproduktif.

Jadi ingat, bagaimana dahulu panitia ospek di kampus saya bekerjasama dengan sebuah perusahaan minuman untuk meminta peserta membawa tutup botol produk sponsor, yang nantinya panitia akan mendapatkan sejumlah dana sesuai tutup botol yang terhimpun. Sebuah kebijakan yang melupakan bahwa ada orangtua yang kepayahan mengumpulkan uang demi mensukseskan sebuah acara yang bernama MOS atau Ospek.

Atau sebuah laporan yang dituliskan oleh Malangpost pada tahun 2008 dimana peserta MOS diwajibkan membawa bekal makan siang berupa Pizza HUT. Walau makanan itu untuk mereka sendiri, apakah ini menutup mata terhadap orang-orang yang tidak mampu atau tidak suka makanan kegemaran kura-kura ninja tersebut.

Lewat tulisan ini, saya mengajak kawan-kawan yang terlibat dalam kepanitiaan MOS atau Ospek untuk memikirkan lagi acara orientasi yang low cost juga bahwa atribut apapun yang digunakan dalam kegiatan orientasi bisa tetap digunakan setelah acara orientasi. Jika tidak, maka kita hanya akan melahirkan masa orientasi yang tidak hanya untuk siswa tetapi juga untuk orangtua murid, yaitu sebuah orientasi atau pengenalan bahwa pendidikan itu memang mahal.

Inginkah kita menjadi bagian dari “pemerintah” yang membuat adagium “Orang Miskin Dilarang Sekolah” benar-benar menjadi kenyataan.

Jogja /koleks pribadi

Pernah masuk ke kompleks gedung DPR/MPR yang sekarang berganti nama dengan Kompleks Parlemen di Senayan? Yang, saya maksudkan masuk lewat pintu belakang, karena setahu saya jika Anda orang biasa yang maksa ingin masuk lewat pintu depan, maka bersiap-siaplah untuk kecewa, karena akses pintu belakanglah yang selalu terbuka.

Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya. Di dekat pos jaga terdapat pengumuman mengenai tata tertib masuk ke Gedung Parlemen tersebut. Tulisannya memang kecil, hanya ditulis diatas kertas ukuran A4. Dan saya sangat yakin, banyak orang yang masuk, melewatkan pengumuman kecil tersebut. Yang menarik dari pengumuman tersebut ada pada point F, disitu kurang lebih dituliskan, “setiap tamu dilarang membawa senjata tajam, senjata api, poster dan pamflet…”

Saya tidak begitu hapal dengan tulisan lengkapnya. Hanya saja yang menarik perhatian saya, sebegitu hebatnyakah kekuatan sebuah poster dan pamflet sehingga ia masukkan pada poin yang sama dengan senjata api dan senjata tajam?

Poster yang seringkali tampil dengan banyak wajah, dari yang sederhana hingga yang penuh dengan seni memang dipercaya memiliki kekuatan untuk memberikan informasi melalui “otak bawah sadar”. Inilah mungkin yang ditakutkan bahwa jika poster atau pamflet dapat masuk ke gedung tersebut, akan mempengaruhi otak bawah sadar. Sekali lagi ini hanya asumsi saya.

Kini, baru saya paham bahwa ternyata poster yang diusung saat demonstrasi bukanlah sekedar kertas untuk meramaikan sebuah aksi. Tetapi ia adalah senjata. Senjata bagi mereka yang hanya memiliki “kata” untuk melawan.

Selama ini, minat membaca masyarakat Indonesia dianggap cukup rendah. Indikator yang sering digunakan antara lain rasio perbandingan antara jumlah penduduk dan oplah surat kabar yang berbanding 1:43 pada tahun 1999. Jumlah ini jauh tertinggal dengan Malaysia yang berbanding 1: 8,1 atau Jepang yang justru sangat fantastis yaitu 1:1,7. (KMBI). Tingkat melek huruf di Indonesia juga masih 88% bandingkan dengan Jepang yang mencapai 99%.

Walaupun dianggap memiliki jumlah pembaca yang sedikit, tetapi Indonesia justru selalu menjadi bagian dari penonton yang besar. Seperti halnya sebagai penonton Piala Dunia terbesar keempat dan seterusnya. Dalam catatan dan ingatan saya hanya ada satu buku dan satu majalah yang benar-benar langka dan sempat di buru oleh pembaca Indonesia.

Buku Gurita Cikeas yang ditulis oleh George Junus Aditjondro dan majalah Tempo edisi Rekening Gendut Perwira Polisi adalah dua tulisan yang banyak dicari pembaca Indonesia. Buku Gurita Cikeas saking diburunya bahkan terbit edisi bajakan serta ramai didagangkan di lampu merah. Sebuah prestasi yang hebat karena buku selama ini jarang ada yang masuk ke pedagang lampu merah. Adapun majalah Tempo, bahkan dijual dalam edisi fotokopian dan harganya ada yang melonjak hingga 2 kali lipat.

Apakah yang ingin ditunjukkan dengan menautkan fenomena ini? Bagi saya hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat kita lebih menjadi masayarakat menyukai tontonan dibandingkan bacaan. Buku Gurita Cikeas dan Majalah Tempo bisa dicari oleh banyak orang akibat dari tontanan berita-berita ditelevisi yang memberitakan mengenai buku dan majalah tersebut.

Ini tentu menjadi PR kita bersama bagaimana merubah masyarakat dengan tingkat budaya “penonton” menjadi masyarakat dengan kegemaran membaca, karena seperti pameo yang sering didengungkan tingkat membaca sebuah negara berhubungan erat dengan kemajuan bangsa tersebut.

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.